Lampung ︱ripost.id―Bonus demografi hanya akan menjadi berharga kalau diiringi oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tinggi dan punya daya saing yang juga tinggi. Jika tidak disertai dua hal tersebut dan hanya melihat sebagai bonus demografi semata, maka bonus demografi tidak memiliki nilai apa-apa.

“Bonus demografi jangan hanya ansich soal usia, soal angkatan kerjanya saja, tetapi harus disertai dengan kemampuan kerjanya,” kata Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim saat membuka peluncuran Pelatihan untuk Pelatih Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) dan Pemberantasan Buta Membaca (Gernas Tastaba) di Balai Guru Penggerak Provinsi Lampung, Senin (3/10).

Dikatakan Chusnunia, menyiapkan generasi muda sama saja dengan mengurusi hari tua. Sebab, dengan anak muda yang cerah maka beban negara dan beban masyarakat akan ringan. Karenanya, menyiapkan SDM berkualitas menjadi tanggung jawab semua pihak untuk memberikan yang terbaik.

“Jangan salahkan kalau anak yang merupakan masa depan kita ternyata gelap. Kita yang terlantar. Maka kita harus bisa menyiapkan perangkatnya memfasilitasinya,” tandas Chusnunia.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi sangat mendukung dan memberikan perhatian terhadap generasi muda. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan di Lampung untuk bergandengan tangan menyukseskan Gernas Tastaka dan Gernas Tastaba ini.

Generasi muda Lampung, tambah Chusnunia, harus dipersiapkan untuk dapat bersaing tidak hanya tingkat nasional tetapi juga di kancah global. Ia mendang, peningkatan kualitas SDM anak muda sudah tidak bisa ditunda lagi di tengah tuntutan terhadap perubahan global yang cepat dan membutuhkan kemampuan yang mumpuni.

Sementara itu, Ketua NU Circle Gatot Prio Utomo mengatakan, kunci dari kesuksesan meningkatkan kualitas generasi muda adalah dengan bergerak bersama, berjuang bersama meningkatkan kualitas literasi numerasi anak-anak Indonesia.

Karena itu, kolaborasi ini melibatkan banyak pihak, di antaranya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Agama, Pemprov Lampung, NU Circle, Ikatan Guru Indonesia, Iluni UI Wilayah Lampung, Yayasan Penggerak Indonesia Cerdas, serta komunitas #bergerakbersama.

Pelatihan ini direncanakan berlangsung dari tanggal 3 hingga 8 Oktober 2022 mendatang. Peserta adalah para guru-guru di wilayah Lampung.

Gatot yang juga Tim Ahli SE Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional yakin, dengan bersinergi maka perubahan akan jauh lebih berdampak, termasuk apa yang sedang dilakukannya bersama berbagai pihak di Lampung.

Di tempat sama, Pembina Yayasan Penggerak Indonesia Cerdas Ahmad Rizali menyatakan hal yang sama. Sejak dilahirkan empat tahun lalu, Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) hidup dan tumbuh dengan ruh kerelawanan yang melibatkan banyak pihak dalam setiap gerakannya.

Kehadiran Gernas Tastaka berawal dari keprihatinan bersama untuk berbuat sesuatu bagi perbaikan mutu guru matematika di Indonesia.

“Tidak ada modal apa-apa. Kami hanya prihatin melihat kemampuan matematika siswa Indonesia, khususnya SD dan MI sangat rendah,” kata Nanang, demikian ia biasa disapa.

Dalam perjalanannya, lanjut Nanang, Gernas Tastaka terus membesar. Di usianya yang keempat pada 10 November 2022, Gernas Tastaka memasuki fase kedua, fase di mana gerakan harus tumbuh lebih cepat lagi dengan melibatkan banyak pihak, tidak bisa semata mengandalkan gerakan relawan.

“Kami menyiapkan Penta Helix untuk mempercepat gerakan kami,” tandas Nanang.

Sebagai informasi, di tahun ketiganya, Gernas Tastaka sudah melaksanakan 80 pelatihan, mencakup 30 kabupaten/kota, dengan penerima manfaat mencapai 48.000 orang. spy